Banyak orang menjalin hubungan dengan berbagai motif dan karakter yang dibawa olehnya, hubungan dapat berjalan jika terjadi kesatuan sikap diantara kedua orang yang menjalin hubungan tersebut.Kenal dengan orang lain itu sangatlah mudah dan tidak memerlukan waktu yang lama, tinggal kamu memperkenalkan diri kamu, nama kamu, alamatmu, sekolah dimana bagi yang masih bersekolah atau bagi yang sudah kerja, kerja dimana, itu baru tahap awal atau pembuka menuju gerbang-gerbang hubungan yang lainnya, bisa rekanan bisnis, bisa hubungan pertemanan, atau malah hubungan percintaan. Wah kalau yang terakhir itu aku bukan ahlinya buktinya aku belum pernah merasakan hubungan percintaan yang selama ini digembar-gemborkan orang begitu indah sampai ada pepatah “gula jawa rasa coklat” sampai didramatisir dengan syair-syair lagu yang romantis sebagai bumbu dalam hubungan percintaan,sampai bumbunya terlalu banyak malah jadi mabuk, mabuk sebelum minum heee….artinya untuk kenal dengan seseoran itu perkara yang gampang, tapi saling memahami dan mengerti itu yang paling susah, susah perkataan itu yang selalu aku garis bawahi, sampai pada titik bahwa apakah itu berarti tidak bisa?bisa itulah jawaban yang aku cari selama ini, bagaimana caranya?aku ingat sebuah kata entah dari mana aku sudah lupa, kurang lebih bunyinya seperti ini “jika kau tersesat dan bimbang maka kembalilah” ya jambuk itu bertambah lagi sebagai doronganku dalam memaknai realitas.
Ku titi lagi hubungan yang selama ini aku anggap sebagai hubungan persahabatan dengan seseorang. Pengalamanku mengatakan bahwa hubungan percintaan atau hubungan kemesraan dalam istilahku, untuk membedakan dan mempermudah saja,selalu saja penuh dengan kemabuk kepayangan sampai-sampai karena enggak mabuk-mabuk malah kena kepayangnya haaaahaaaaaa.
Kenapa hubugan itu ku titi lagi itu mungkin pertanyaan yang harus dijawab?ya mungkin karena faktor usia kali heee….heee…..aku sudah menginjak usia 27 malah mendekati 28 tahun, di usia aku yang sudah umur sebagai istilah yang sering dipakai sebagai penanda bahwa pada usia-usia itu antara 25 sampai 30 tahun merupakan usia yang disarankan untuk menjalin hubungan tidak hanya percintaan atau pacaran bahasa anak muda jaman sekarang, tapi usia yang matang untuk berinjak ke fase berikutnya yaitu fase Menikah. Ah Menikah lagi kata temanku dengan menarik napas panjang menandakan bahwa masih ada fase lagi yang harus dilalui,tenangke pikirmu jawabku dengan nada rendah biar kata-kata itu merasuk sampai ketulang-tulang, walau ku tahu kata-kata itu memang klise, tapi menurutku tergantung dengan siapa dan waktunya setiap kata dan intonasi dalam menekankan setiap makna dapat menjadi penawar hati.
Kembali ke laptop kata tukul arwana dalam setiap sesi acara televisi yang menyedot jutaan mata orang indonesia, sebagai penanda agar tema pembicaraan tidak kemana-mana. Kenapa aku menekankan kemesraan dalam setiap hubungan yang menyangkut masalah rasa, karena belajar dari pengalaman dan impianku membangun keluarga yang sangat familier dan saling terbuka dan yang penting adalah keluarga yang saling menguatkan dikala kita lemah dan menyejukkan dikala kita panas. Semua itu belum pernah aku dapatkan atau bahkan tidak pernah aku rasakan dalam kehidupanku,kapan aku menangis mungkin itu sebagai penanda apakah aku masih punya hati, kalau aku ini memang masih punya hati yaitu waktu ibuku menelepon 2 bulan yang lalu karena memang aku jarang pulang pada 2 bulan yang lalu, walau awalnya yang pertama meneleponku adalah ayahku berhubung hubunganku dengan ayahku dan komunikasi yang dibangun agak kecowokakan banget dengan sikapnya yang selalu menuntut tanggung jawab yang diamanahkan kepadaku dan dengan bahasa-bahasa yang kadang kala memang memekakkan telinga bagi orang yang belum terbiasa mendengarnya, meskipun sebenarnya kata-kata itu seperti orang tua pada umumnya tapi mungkin karena intonasi suaranya yang agak tinggi itulah yang menghujam deras sampai sisi kelakianku tergoncang.Dengan nada serak dan agak terbata-bata ibuku menanyakan kabarku, ya mungkin karena sisi keibuan itulah aku terhenyat dan terdiam meskipun waktu ayahku telp aku selalu membela diri dan tidak benar semua apa yang sudah terjadi adalah salahku.Dengan suara ibu yang pelan dan sedikit terhisak itu akupun tidak tega dan akupun berucap akan ku usahakan semampuku jawabku.
Ternyata aku juga masih punya hati,jika tersesat maka kembalilah kata-kata itu yang mulai aku lakukan dalam setiap hubungannku dengannya.
To Be Continued

























Komentar Terakhir